Monthly Archives: February 2010

PEMBELAJARAN KETERAMPILAN MEMBACA MATEMATIKA PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH

PEMBELAJARAN

KETERAMPILAN MEMBACA MATEMATIKA

PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH

Oleh:

Utari Sumarmo, FPMIPA UPI

Desember 2006

ABSTRAK

Artikel ini membahas beberapa pendekatan pembelajaran membaca matematika untuk siswa SM disertai dengan rasionalnya dan contoh pembelajaran yang relevan. Uraian didasarkan atas analisis terhadap: (1) karakteristik matematika: sebagai human activity; proses yang aktif, dinamik dan generatif; ilmu yang terstruktur dan deduktif; memiliki bahasa simbol dan kemampuan analisis kuantitatif, serta memuat proses induktif berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah data; (2) visi pendidikan matematika masa kini dan masa datang;  (3) keterampilan dasar matematika  untuk siswa SM, (4) jenas keterampilan membaca matematika, (5) saran dan contoh pembelajaran keterampilan membaca matematika yang menumbuhkan berfikir dan disposisi matematik, Berdasarkan kedalaman tuntutan berfikir matematik yang termuat dalam teks yang dibaca, keterampilan membaca matematika dapat digolongkan pada dua tingkat yaitu tingkat rendah dan tingkat tinggi  . 

Istlah kunci: matematika sebagai: kegiatan manusia; proses matematika yang aktif, dinamik dan generatif; berfikir matematik tugas matematik, pemahaman, penalaran, pemecahan  masalah,  koneksi dan komunikasi matematik, analogi, generalisasi, problem posing, disposisi matematik; diskursus; scaffolding dan probing;  literal reading, interpretative reading, critical reading, creative reading, membaca cepat (skimming dan scanning), membaca memindai (pemahanan), membaca ekstensif, tran4sactional reading strategy, SQ3R, think-talk-write, open-ended task,  performance-assessment-task.

Download makalah

KEMANDIRIAN BELAJAR: APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA DIKEMBANGKAN PADA PESERTA DIDIK

KEMANDIRIAN BELAJAR:

APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA  DIKEMBANGKAN

PADA  PESERTA DIDIK

Oleh: Utari Sumarmo, FPMIPA UPI

ABSTRAK

Tiga istilah yang  berkaitan dengan kemandirian belajar adalah self regulated learning (SRL), self regulated thinking (SRT), dan self directed learning (SDL). Beberapa kesamaan karakteristik, yang termuat dalam ketiga istuilah tersebut di antaranya adalah: termuatnya proses perancangan dan pemantauan proses kognitif dan afektif ketika seseorang menyelesaikan tugas akademiknya.  

A. Pengertian Kemandirian Belajar (Self Regulated Learning)

Pembahasan istilah kemandirian belajar berhubungan dengan beberapa istilah lain di antaranya self regulated learning, self regulated thinking, self directed learning, self efficacy, dan self-esteem. Pengertian kelima istilah di atas tidak tepat sama, namun mereka memilki beberapa kesamaan karakteritik.  Dalam tahun enampuluhan dan tujuhpuluhan, praktisi pendidikan banyak dipengaruhi oleh pandangan behaviourist seperti Watson dan Skinner. Kemudian muncul pandangan teori belajar sosial Bandura, yang memandang belajar dari sudut pandang kognitif. Long (Kerlin, 1992) misalnya, memandang belajar sebagai proses kognitif yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keadaan individu, pengetahuan sebelumnya, sikap, pandangan individu, konten, dan cara penyajian.  Satu sub-faktor penting dari keadaan individu yang mempengaruhi belajar adalah self-regulated learning.. Untuk menghindarkan salah pengertian di antara pembaca, pada uraian berikut ini akan digunakan istilah kemandirian belajar. Sebagai terjemahan dari istilah self-regulated learning atau  disingkat SRL.

Sejumlah pakar (Butler, 2002, Corno dan Mandinah, 1983, Corno dan Randi, 1999, Hargis, http:/www.smartkidzone.co/, Kerlin, 1992, Paris dan Winograd, 1998, Schunk dan Zimmerman, 1998, Wongsri, Cantwell, dan Archer, 2002), menguraikan pengertian istilah SRL, merelasikannya dengan beberapa istilah lain yang serupa, memeriksa efek SRL terhadap pembelajaran sains melalui internet, serta memberikan saran untuk memajukan SRL pada siswa/mahasiswa Dalam artikel-artikel di atas, istilah SRL didefinisikan agak berbeda, namun semuanya memuat tiga karakteritik utama yang serupa, yaitu merancang tujuan, memilih stategi, dan memantau proses kognitif dan afektif yang berlangsung  ketika seseorang  menyelesaikan suatu tugas akademik.

Corno dan Mandinah (1983), Hargis (http:/www.jhargis.co/) dan   Kerlin, (1992) mendefisikan SRL sebagai  upaya memperdalam dan memanipulasi jaringan asosiatif dalam suatu bidang tertentu, dan memantau serta  meningkatkan proses pendalaman yang bersangkutan Definisi tersebut menunjukkan bahwa  SRL merupakan proses  perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap proses kognitif dan afektif dalam menyelesaikan suatu tugas akademik. Dalam hal ini, SRL itu sendiri bukan merupakan kemampuan mental atau keterampilan akademik tertentu seperti kefasihan membaca, namun merupakan proses pengarahan diri dalam mentransformasi kemampuan mental ke dalam keterampilan akademik tertentu (Hargis, http:/www.jhargis.co/). Mengacu pada pendapat Corno dan Mandinach (1983), Kerlin (1992) mengklasifikasi SRL dalam dua katagori yaitu: (1) proses pencapaian informasi, proses  transformasi informasi, proses pemantauan,  dan proses perancangan, serta (2) proses kontrol metakognitif. 

Agak berbeda dengan definisi Corno dan Mandinach (1983), Bandura (Hargies, http:/www.jhargis.co/) mendefinisikan SRL sebagai kemampuan memantau perilaku sendiri, dan merupakan kerja-keras personaliti manusia. Selanjutnya Bandura menyarankan tiga langkah dalam melaksanakan SRL yaitu: (1) Mengamati dan mengawasi diri sendiri: (2) Membandingkan posisi diri dengan standar tertentu,  dan (3) Memberikan respons sendiri  (respons positif dan respons negatif). Strategi SRL memuat kegiatan: mengevaluasi diri, mengatur dan mentranformasi, menetapkan tujuan dan rancangan, mencari informasi, mencatat dan memantau, menyusun lingkungan, mencari konsekuensi sendiri, mengulang dan mengingat, mencari bantuan sosial, dan mereview catatan. Berkaitan dengan SRL, Hargies (http:/www.jhargis.co/) melaporkan bahwa mahasiswa menunjukkan SRL yang tinggi ketika belajar sains melalui internet, dan mereka memperoleh peningkatan skor sains setelah pembelajaran. Demikian pula Yang (Hargis, http:/www.jhargis.co/) melaporkan bahwa siswa yang memiliki SRL yang tinggi: (1) cenderung belajar lebih baik dalam pengawasannya sendiri dari pada dalam pengawasan program, (2) mampu memantau, mengevaluasi, dan mengatur belajarnya secara efektif; (3) menghemat waktu dalam menyelesaikan tugasnya; dan (4) mengatur belajar dan waktu secara efisien.

Hampir serupa dengan definisi Bandura yaitu berkaitan dengan kontrol diri dalam belajar, Schunk dan Zimmerman (1998) mendefinisikan  SRL sebagai proses belajar yang terjadi karena pengaruh dari pemikiran, perasaan, strategi, dan perilaku sendiri yang berorientasi pada pencapaian tujuan. Menurut Schunk dan Zimmerman (1998) terdapat tiga phase utama dalam siklus SRL yaitu: merancang belajar, memantau kemajuan belajar selama menerapkan rancangan, dan mengevaluasi hasil belajar secara lengkap. Serupa dengan Schunk dan Zimmerman (1998),  Butler (2002)  mengemukakan bahwa SRL merupakan siklus kegiatan kognitif yang rekursif (berulang-ulang) yang memuat kegiatan: menganalisis tugas; memilih, mengadopsi, atau menemukan pendekatan strategi untuk mencapai tujuan tugas; dan memantau hasil dari strategi yang telah dilaksanakan.

Selanjutnya, Schunk dan Zimmerman (1998),  merinci kegiatan yang berlangsung pada tiap phase SRL sebagai berikut:

  • Pada phase merancang belajar berlangsung kegiatan: menganalisis tugas belajar, menetapkan tujuan belajar, dan merancang strategi belajar.
  • Pada phase memantau berlangsung kegiatan mengajukan pertanyaan pada diri sendiri: Apakah strategi yang dilaksanakan sesuai dengan rencana? Apakah saya kembali kepada kebiasaan lama? Apakah saya tetap memusatkan diri? Dan apakah strategi telah  berjalan dengan baik?
  • Phase mengevaluasi, memuat kegiatan memeriksa bagaimana jalannya  strategi: Apakah strategi telah dilaksanakan dengan baik?  (evaluasi proses); Hasil belajar apa yang telah dicapai? (evaluasi produk); dan Sesuaikah strategi dengan jenis tugas belajar yang dihadapi?
  • Pada phase merefleksi: Pada dasarnya phase ini tidak  hanya berlangsung pada phase keempat dalam siklus self regulated learning, namun refleksi berlangsung pada tiap phase selama silkus berjalan.

Paris dan Winograd (The National Science Foundation, 2000),  mengemukakan karakteristik lain yang termuat dalam self regulated thinking (SRT) dan SRL yaitu: kesadaran akan berfikir, penggunaan strategi, dan motivasi yang berkelanjutan. Menurut Paris dan Winograd, SRL tidak hanya berfikir tentang berfikir, namun membantu individu menggunakan berfikirnya dalam menyusun rancangan, memilih strategi belajar, dan menginterpretasi penampilannya sehingga individu dapat menyelesaikan masalahnya secara efektif. Selanjutnya Paris dan Winograd menyatakan bahwa pemikir yang strategik tidak hanya mengetahui strategi dan penggunaannya, tetapi lebih dari itu mereka dapat membedakan masalah yang produktif dan yang tidak produktif, mereka mempertimbangakn lebih dulu berbagai pilihan sebelum memilih solusi atau strategi. Paris dan Winograd juga mengidentifikasi motivasi yang berkelanjutan merupakan aspek yang penting dalam SRL. Rochester Institute of Techonology (2000), mengidentifikasi beberapa karakteristik lain dalam SRL, yaitu: memilih tujuan belajar, memandang kesulitan sebagai tantangan, memilih dan menggunakan sumber yang tersedia, bekerjasama dengan individu lain, membangun makna, memahami pencapaian keberhasilan tidak cukup hanya dengan usaha dan kemampuan saja namun harus disertai dengan kontrol  diri.

: Istilah lain  yang berelasi dengan SRL, dikemukakan oleh Lowry  (ERIC Digest No 93, 1989), yaitu self directed learning (SDL): yang didefinisikan sebagai suatu proses di mana individu: berinisiatif belajar dengan atau tanpa bantuan orang lain; mendiagnosa kebutuhan belajarnya sendiri, merumuskan tujuan belajar; mengidentifikasi sumber belajar yang dapat digunakannya;  memilih dan menerapkan strategi belajar, dan  mengevaluasi hasil belajarnya.

Definisi lain tentang self-direction on learning atau SDL dkemukakan Wongsri, Cantwell, Archer (2002) yaitu sebagai proses belajar di mana individu memiliki rasa tanggung jawab dalam: merancang belajarnya, dan menerapkan, serta mengevaluasi proses belajarnya. Definisi di atas menggambarkan karakteristik internal dimana individu mengarahkan dan memusatkan diri  pada keinginan belajarnya sendiri, serta mengambil tanggung jawab dalam belajarnya. Wongsri, Cantwell, Archer (2002) mengemukakan bahwa kemampuan SDL harus dimiliki setiap individu terutama yang mengikuti pendidikan tersier (pendidikan tinggi). Pengertian SDL di mana individu mengatur secara aktif proses belajarnya, merupakan proses internal yang dimiliki dan dilaksanakan oleh individu yang sedang belajar. Kemampuan individu dalam memaksimumkan SDL  bukan merupakan bakat, namun dapat ditingkatkan melalui program belajar yang relevan. Hoban, Sersland, Raine (Wongsri, Cantwell, Archer, 2002) merelasikan istilah SDL dengan istilah self-efficacy yang didefinisikan sebagai pandangan individu terhadap kemampuan dirinya dalam bidang akademik tertentu. Pandangan self efficacy individu berpengaruh terhadap pilihan dan kegiatan perkuliahan yang diikutinya. Keadaan tersebut melukiskan bahwa pada dasarnya individu merupakan peserta aktif dalam belajarnya.  Selanjutnya, Hoban, Sersland, Raine (Wongsri, Cantwell, Archer, 2002)  mengemukakan  bahwa self-efficacy berkaitan dengan  SDL, tujuan berprestasi dalam belajar, atribusi, SRL, dan  volition. Dalam studinyai mereka .menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki derajat self-efficacy yang tinggi menunjukkan derajat SDL yang tinggi juga.

B. Mengapa Kemandirian Belajar (Self Regulated Learning) Perlu

Dikembangkan pada Individu yang Belajar Matematika?

Pada Bagian A beberapa pakar mendeskripsikan  istilah  kemandirian belajar (SRL) dengan cara mengemukakan karakteristik yang termuat dalam self regulated learning.  Meskipun karakteristik yang disarikan oleh para pakar agak berbeda, dalam definisi yang dirumuskan para pakar tadi terdapat beberapa karakteristik yang serupa.  Tiga karakteristik serupa yang termuat dalam pengertian  SRL, adalah: (1) Individu merancang belajarnya sendiri sesuai dengan keperluan atau tujuan individu yang bersangkutan; (2) Individu memilih strategi dan melaksanakan rancangan belajarnya: kemudian (3) Individu memantau kemajuan belajarnya sendiri, mengevaluasi hasil belajarnya dan dibandingkan dengan standar tertentu.

Karakteistik yang termuat dalam SRL seperti di atas, menggambarkan keadaan personaliti individu yang tinggi dan memuat proses metakognitif di mana individu secara sadar merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi belajarnya dan dirinya sendiri secara cermat. Kebiasaan kegiatan belajar seperti di atas secara kumulatif akan menumbuhkan disposisi belajar atau keinginan yang kuat dalam belajar pada individu yang bersangkutan. Pada perkembangan selanjutnya, pemilikan disposisi belajar yang tinggi pada individu, akan membentuk individu yang tangguh, ulet, bertanggung jawab, memiliki motif berprestasi yang tinggi, serta  membantu individu mencapai hasil terbaiknya.

Memperhatikan karakteristik SRL dan hasil akumulatif penerapannya,  timbul pertanyaan: Mengapa SRL perlu dikembangkan pada individu yang belajar matematika? Jawaban pertanyaan tersebut, berkaitan dengan hakekat dan visi bidang studi matematika.

Matematika mempunyai arti yang beragam, bergantung kepada siapa yang menerapkannya. Beberapa pengertian matematika di antaranya adalah: 1) Sebagai suatu kegiatan manusia  dan merupakan proses yang aktif, dinamik, dan generatif; 2) Sebagai ilmu yang menekankan proses deduktif, penalaran logis dan aksiomatik, memuat proses induktif penyusunan konjektur, model matematika, analogi, dan generalisasi; 3) Sebagai ilmu yang terstruktur dan sistimatis; 4) Sebagai ilmu bantu dalam ilmu lain/ kehidupan sehari-hari; 5) Sebagai ilmu yang memiliki bahasa simbol yang efisien, sifat keteraturan yang indah, kemampu-an analisis kuantitatif; 6) Sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan berfikir kritis, serta sikap yang terbuka dan obyektif

Sebagai implikasi dari hakekat matematika seperti di atas, maka  pembelajaran matematika diarahkan untuk mengembangkan (1) kemampuan berfikir matematis yang meliputi: pemahaman, pemecahan masalah, penalaran, komunikasi, dan koneksi  matematis; (2) kemampuan berfikir kritis, serta sikap yang terbuka dan obyektif, serta (3) disposisi matematis atau  kebiasaan, dan sikap belajar berkualitas yang tinggi Kebiasaan  dan  sikap belajar yang dimaksud antara lain terlukis pada karakteristik utama SRL  yaitu: (1) Menganalisis kebutuhan belajar matematika, merumuskan tujuan; dan merancang program belajar (2) Memilih dan menerapkan strategi belajar; (3) Memantau dan mengevaluasi diri apakah strategi telah dilaksanakan dengan benar, memeriksa hasil (proses dan produk), serta merefleksi untuk memperoleh umpan balik.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pengembangan SRL sangat diperlukan oleh individu yang belajar matematika. Tuntutan pemilikan SRL  tersebut semakin kuat dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran, misalnya pembelajaran melalui internet (e-learning) yang sekarang sedang banyak dikembangkan para ahli. Keuntungan dalam e-learning antara lain adalah internet memberikan sejumlah fasilitas,    sumber pustaka terkini, dan kemudahan mengakses (kapan saja, oleh siapa saja, dan di mana saja) yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Demikian pula SRL menjadi lebih diperlukan oleh individu (terutama pada pendidikan tinggi) yang menghadapi tugas/kajian mandiri, tugas dalam bentuk proyek yang terbuka atau pemecahan masalah, penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi. Ketika individu menghadapi tugas-tugas seperti di atas,  ia dihadapkan pada sumber informasi yang melimpah (sangat banyak) yang mungkin relevan atau yang tidak relevan dengan kebutuhan dan tujuan.individu yang bersangkutan. Pada kondisi seperti itu individu tersebut harus memiliki inisiatif sendiri dan motivasi intrinsik, menganalisis kebutuhan dan merumuskan tujuan, memilih dan menerapkan strategi penyelesaian masalah, menseleksi sumber yang relevan, serta mengevaluasi diri (memberi respons positif atau negatif dan umpan balik) terhadap  penampilannya.

Perlunya pengembangan SRL pada individu yang belajar matematika juga didukung oleh beberapa hasil studi  Temuan itu antara lain adalah: Individu yang memiliki SRL yang tinggi cenderung belajar lebih baik, mampu memantau, mengevaluasi, dan mengatur belajarnya secara efektif; menghemat waktu dalam menyelesaikan tugasnya; mengatur belajar dan waktu secara efisien, dan memperoleh skor yang tinggi dalam sains.(Hargis, http:/www.jhargis.co/). Studi lain melaporkan bahwa mahasiswa yang memiliki derajat self-efficacy yang tinggi menunjukkan derajat SDL yang tinggi juga (Wongsri, Cantwell, Archer, 2002)

C.  Mengembangkan Self Directed Learning

Pada dasarnya sebagian besar individu memiliki dan menerapkan SRL  dalam belajar bidang akademik tertentu dan atau  kegiatan hidup sehari-hari. Namun demikian, belum tentu mereka melaksanakan SRL secara efektif. Beberapa pakar (Butler, 2002, Lowry, 2000, Paris dan Winograd, 1998,  Shunck, 1994, dan Shunck dan Zimmerman, 1998) mengemukakan saran umum untuk mengembangkan SRL lebih efektif pada individu yang belajar. Dalam saran yang dikemukakan para pakar, terdapat beberapa saran serupa dan ada pula saran-saran yang spesifik, namun demikian saran-saran tersebut tidak saling bertentangan bahkan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Saran-saran yang dikemukakan bersifat umum, oleh karena itu penerapannya dapat dimodifikasi sesuai dengan  karakteristik bidang studi yang diajarkan.

Lowry (ERIC Digest No 93,1989-00-00) merangkumkan sejumlah saran dari beberapa penulis tentang memfasilitasi berkembangnya SRL pada mahasiswa, yaitu dengan:

1)            Membantu mahasiswa mengidentifikasi titik awal suatu proyek belajar dan mengembangkan bentuk ujian dan laporan yang relevan.

2)            Mendorong  mahasiswa untuk memandang pengetahuan dan kebenaran secara kontekstual, memandang nilai kerangka kerja sebagai konstruk sosial, dan memahami bahwa mereka dapat bekerja secara perorangan atau dalam kelompok.

3)            Menciptakan suasana kemitraan dengan mahasiswa melalui negosiasi tujuan, strategi, dan kriteria evaluasi.

4)            Jadilah seorang menejer belajar dari pada sebagai penyampai informasi.

5)            Membantu mahasiswa menyusun kebutuhannya untuk merumuskan tujuan belajarnya.

6)            Mendorong mahasiswa menyusun tujuan yang dapat dicapai melalui berbagai cara dan tawarkan beberapa contoh performance yang berhasil

7)            Menyiapkan  contoh-contoh pekerjaan  yang sudah berhasil

8)            Meyakinkan bahwa mereka menyadari tujuan, strategi belajar, sumber, dan kriteria evaluasi yang telah mereka tetapkan.

9)            Melatih mahasiswa berinkuiri, mengambil keputusan, mengembangkan dan mengevaluasi diri

10)       Bertindak sebagai pembimbing dalam mencari sumber

11)       Membantu menyesuaikan sumber dengan kebutuhan mahasiswa

12)       Membantu mahasiswa mengembangkan sikap dan perasaan positif

13)       Memahami tipe personaliti dan jenis belajar mahasiswa

14)       Menggunakan teknik pengalaman lapangan dan pemecahan masalah sebagai  dasar pengalaman belajar orang dewasa

15)       Mengmembangkan pedoman belajar yang berkualitas tinggi termasuk kit belajar terprogram

16)       Memberi dorongan agar mahasiswa berfikir kritis, misalnya  melalui seminar

17)       Menciptakan suasana keterbukaan dan saling percaya untuk membangun penampilan yang lebih baik.

18)       Membantu mahasiswa menjaga kode etik untuk menghindarkan diri dari tindakan manipulasi.

19)       Bertindak secara etik misalnya tidak menyarankan self regulated learning  kalau hal itu tidak sesuai dengan kebutuhan siswa

Selain saran kepada guru, Lowry juga memberikan saran kepada lembaga untuk memajukan SRL pada sivitasnya, antara lain  dengan:

1)            Menyelenggarakan panel diskusi untuk membahas kurikulum dan kriteria penilaian.

2)            Menyelenggarakan studi tentang kecenderungan minat mahasiswa

3)            Mengembangkan suatu instrumen yang untuk menilai dan penampilan mahasiswa dibandingkan dengan  penampilan yang diharapkan

5)            Menyediakan peluang agar mahasiswa merefleksikan apa yang telah mereka pelajari

6)            Memahami keberadaan mahasiswa dan memberi pujian ketika mereka berhasil.

7)            Memajukan jaringan belajar, siklus belajar, dan pertukaran pengalaman belajar.

8)            Menyelenggarakan pelatihan tentang self directed learning dan memperluas peluang untuk implemntasinya.

Melengkapi saran-saran di atas, Schunk (1994) juga mengajukan saran kepada guru atau orang tua untuk membantu siswa atau anak agar menjadi self regulated learner dengan cara:

1)      Menciptakan suasana belajar yang kondusif dan menghindarkan sesuatu yang akan mengganggu belajar siswa/anak misalnya video-game atau permainan yang tidak relevan.

2)      Memberi tahu siswa/anak bagaimana cara mengikuti suatu petunjuk.

3)      Mendorong siswa/anak agar memahami metode dan prosedur yang benar dalam menyelesaikan suatu tugas

4)      Membantu siswa mengatur waktu

5)      Menumbuhkan rasa percaya diri pada siswa/anak bahwa mereka mampu mengerjakan tugas yang diberikan.

6)      Mendorong siswa/anak  untuk mengontrol emosi dan  tidak mudah  panik ketika  menyelesaikan tugas atau menghadapi kesulitan.

7)      Memperlihakan kemajuan yang telah dicapai siswa/anak

8)      Membantu siswa/anak cara mencari bantuan belajar.

Berdasarkan penelitian, Shunck dan Zimmerman (1998) mengemukakan saran kepada guru untuk membantu siswa menjadi expert learners antara lain melalui:

1)      Penggunaan strategi yang jelas dalam pembelajaran, misalnya strategi mengulang, elaborasi, organisasional, pemahaman dan pemantauan, dan strategi afektif.

2)      Pengembangan keterampilan berfikir reflektif misalnya cara bertanya pada diri sendiri.

3)      Latihan menerapkan SRL secara ekstensif dalam waktu lama dan diikuti dengan pemberian umpan-balik yang informatif dan korektif.

Hampir serupa dengan Shunck dan Zimmerman, Paris dan Winograd (1998) mengajukan lima prinsip untuk memajukan self regulated learning pada guru dan siswa yaitu:

1)      Penilaian diri (self appraisal) mengantar pada pemahaman belajar yang lebih dalam. Prinsip tersebut meliputi: a) menganalisis gaya dan strategi belajar personal dan membandingkannya dengan  gaya dan strategi orang lain; b) Mengevaluasi apa yang diketahui dan yang tidak diketahui, dan mempertajam pemahaman diri untuk memajukan upaya yang efisien, dan c) penilaian diri secara periodik terhadap proses dan hasil belajar, pemantauan kemajuan belajar, dan meningkatkan perasaan kemampuan diri (self efficacy).

2)      Pengaturan diri dalam  berfikir, berupaya, dan memilih pendekatan yang fleksibel dalam pemecahan masalah. SRL bukan sekadar urutan langkah-langkah pengerjaan, namun  merupakan rangkaian kegiatan yang dinamik dalam latihan pemecahan masalah,

3)      Self regulated learning dan self regulated thinking tidak statik, tetapi berkembang seiring dengan waktu, dan berubah  berdasarkan pengalaman. Self regulated dapat ditingkatkan melalui refleksi dan diskusi.

4)      SRL dapat diajarkan melalui berbagai cara antara lain melalui: a) pembelajaran langsung, refleksi terarah, dan diskusi metakognitif; b) penggunaan model dan kegiatan yang memuat analisis belajar yang reflektif, dan c) diskusi tentang peristiwa yang dialami personal

5)      SRL  membentuk pengalaman naratif dan identitas personal

Melengkapi saran-saran yang telah dikemukakan, Butler (2002) menyatakan bahwa guru hendaknya membantu siswa rmelaksanakan siklus SRL secara fleksibel dan adaptif yaitu: menganalisis tugas, memilih dan menerapkan strategi, memantau diri dan merefleksi. Selama siklus berlangsung  guru hendaknya:

1)      Membantu siswa mengkonstruksi: pengetahuan metakognitif tentang: tugas-tugas akademiknya , strategi untuk menganalisis tugas, strategi untuk tugas yang khusus misalnya belajar matematika, keterampilan menerapkan strategi, dan strategi memantau diri sendiri dan strategi menggunakan umpan balik.

2)      Mendorong siswa menumbuhkan berfikir metakognitif dalam menentukan tujuan tugas akademik; strategi untuk menganalisis tugas; pengetahuan metakognitif tentang tugas yang khusus; keterampilan menerapkan strategi, dan strategi untuk memonitor diri dan strategi untuk umpan balik.

3)      Mendorong persepsi diri yang positif terhadap kemampuan diri dan motif pandangan diri. Persepsi keunggulan diri siswa akan mempengaruh tujuan yang disusun siswa, komitmen siswa terhadap tujuan, dan strategi belajar yang ditempuhnya.

Ungkapan pengetahuan dan berfikir metakognitif di sini menyatakan bahwa individu yang belajar itu menyadari semua langkah yang dikerjakannya, dan ia merefleksi atau memonitor serta mengevaluasi sendiri terhadap langkah-kangkah yang dikerjakannya, melalui pertanyaan-pertanyaan kepada dirinya sendiri. Proses kognitif tersebut, menumbuhkan keyakinan pada dirinya bahwa yang dikerjakannya benar atau masih perlu diperbaiki. Pada tahap selanjutnya akan tumbuh self efficacy pada diri siswa dan memberikan hasil belajar yang lebih berkualitas. Dengan demikian akan berlangsung siklus yang berkelanjutan antara proses dan produk:  SRL,  self efficacy, SDL, dan hasil belajar yang bermakna.

Daftar Pustaka

Butler, D.L. (2002). Individualizing Instrction in Self-Regulated Learning. http//articles.findarticles.com/p/articles/mi_mOQM/is_2_41/ni_90190495

Corno  L. & Randi, J. (1999). Self-Regulated Learning. http//www.personal.psu.edu/users/h/x/hxk223/self.htm

Hargis, J. (http:/www.jhargis.co/). The Self-Regulated Learner Advantage: Learning Science on the Internet.

Kerlin, B. A.(1992). Cognitive Engagemant Style: Self-Regulated Learning and Cooperative Learning.

Lowry, C. M. (2000). Supporting and Facilitating Self-Directed Learning. ERIC Digest No 93,1989-00-00

Online Learning, Rochester Institute of Thechonology. (2000). Effective Teaching Thecniques for Distance Learning.

Paris & Winograd.  (1998). The National Science Foundation, 2000.

Schunk, D.H. (1994). Helping Children Work Smarter for School Success. Department of Educational Studies, Purdue University Parent page was developed by Cornel Cooperative-Extention of Suffolk County.

Shunck, D.H., & B.J Zimmerman,.(1998). Introduction to the Self Regulated Learning (SRL) Cycle.

Wongsri,N.,  Cantwell, R.H., Archer, J. (2002). The Validation of Measures of Self-Efficacy, Motivation and self-Regulated Learning among Thai tertiary Students. Paper presented at the Annual Conference of the Australian Association for Research in Education, Brisbane, December 2002

Donwload makalah

BERFIKIR DAN DISPOSISI MATEMATIK: APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA DIKEMBANGKAN PADA PESERTA DIDIK

BERFIKIR DAN DISPOSISI MATEMATIK:

APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA DIKEMBANGKAN

PADA PESERTA DIDIK

Utari Sumarmo, FPMIPA UPI

Tahun 2010

ABSTRAK

Artikel ini membahas pengertian dan ciri-ciri berfikir dan disposisi matematik disertai dengan rasional mengapa dan saran untuk dikembangkan pada peserta didik. Uraian didasarkan atas analisis terhadap: (1) hakekat matematika: (2) visi matematika masa kini dan masa datang; (3) pengertian berfikir dan disposisi matematik dan saran mengembangkannya, (4)  contoh butir tes berfikir dan disposisi matematik serta hasil studi mengenai pembelajaran berfikir matematik. Beberapa studi menemukan bahwa: (1) berfikir matematik tingkat tinggi tergolong sukar untuk sebagian peserta didik, namun kemampuan tersebut perlu dipelajari oleh peserta didik, (2) berbagai pendekatan pembelajaran matematika yang inovatif berhasil meningkatkan kemampuan berfikir matematik tingkat tinggi peserta didik lebih baik dibandingkan dengan pembelajaran biasa; (3) peserta didik aktif belajar menemukan kembali dan  belajar bekerjasama; (4) peserta didik dan guru/dosen memberikan respons positif terhadap berbagai pendekatan pembelajaran yang inovatif; (5) pembelajaran mendorong tumbuhnya disposisi matematik.pada peserta didik.

Download makalah lengkap